Arjuna Pulsa
Home » Blog » Bumi Butuh Sentuhanmu: Manusia, Sang Pencipta Keindahan

Bumi Butuh Sentuhanmu: Manusia, Sang Pencipta Keindahan

Arjuna Wijaya
11 Maret 2026
3 menit baca
Bumi Butuh Sentuhanmu: Manusia, Sang Pencipta Keindahan

Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Pimpinan PusatMuhammadiyah Saad Ibrahim saat mengisi Kajian Ramadan 1447 H, Pimpinan Daerah Ngawi di Islamic Center Muhammadiyah Ngawi Mororejo, Grudu, Ngawi, Jawa Timur.

Mengawali pemaparannya, Saad teringat oleh sosok Lee Kuan Yew, Perdana Menteri SingapuraSaad mengungkap bahwa dari sosok tokoh Singapura tersebut, terdapat sebuah pengajaran yang dapat dipetik di dalamnya terutama tentang ilmu ke khafilahan manusia dalam mewujudkan Surga di muka Bumi.

“Di tahun 1965, Mantan Perdana Menter Singapura, Lee Kuan Yew, dibuat gundah gulana dengan kondisi negaranya.

Di mana sungainya keruh, orang-orang berpakaian kumuh, bahkan sukar menemukan anak-anak yang tersenyum,” jelas Saad dalam acara yang digelar Sabtu

Melanjutkan hal itu, Saad secara singkat menjelaskan bahwa Lee Kuan Yew pada akhirnya berhasil menyelesaikan kegundahannya.

Saad mengungkap bahwa membangun cara pandang, cara berpikir, dan kepekaan terhadap rakyatnya merupakan kunci utama Lee Kuan Yew dalam mengatasi problema krusial yang ada di negaranya.

“Lee Kuan Yew mencontoh negara Swiss. Ia pelajari sungainya relatif jernih, pohon-pohonnya rindang, masyarakatnya berpakaian bagus, anak-anak juga penuh dengan senyum,” tambah Saad.

Atas usahanya itu, pada akhirnya di era milenium ketigamasyarakat Singapura dapat merayakan keberhasilan dari perjuangan panjang sosok Lee Kuan Yew untuk mentransformasikan kondisi lingkungan setempat.

Lebih jauh, dengan inspirasi dari sosok Lee Kuan Yew, Saad menyebut bahwa secara tidak langsung praktik yang dijalankan oleh Lee Kuan Yew mengandung makna teologis yang tentang kekhafilahan manusia di muka bumi.

“Maknanya secara teologis, karena iatidak mengambil dari Quran, tapi secara tidak langsung ia berusaha mewujudkan surga itu di bumi sesuai kadar kemampuan manusia,” jelasnya.

Allah Berikan Mindset Keindahan untuk Menciptakan Kesejahteraan

Sebagaimana penjelasan Al Quran, Surga digambarkan dengan sungai-sungainya yang jernih dan airnya dapat diminum, bahkan terasa seperti susu, ada juga yang seperti madu, dan lain sebagainya.

Pakaian penghuni surga amat indah, dan anak-anak kecil disana penuh dengan senyuman.

Begitulah jelas Saad ketika menjelaskan kondisi Surga. Kemudian, ia merelevansikan hal itu dengan Nabi Adam, yang mana sebelum diturunkan di muka bumi, ia bersama Hawa telah merasakan hidup di Surga.

Skenario kehidupan Adam di Surga itu, menurut Saad bukanlah tanpa alasan, melainkan memberikan pengajaran kepada manusia supaya mindsetnya dapat diasuh oleh lingkungan yang serba keindahan, kesejukan, dan ketentraman.

“Bekal pengalamannya tidak bisa kita rasakan karena tidak diwariskan. Tapi, mindsetnya tentang surga itu diwariskan secara psikis genetik,” katanya.

Karena itulah, manusia memiliki sensitivitas terhadap kondisi lingkungan. Tentu, sebagai khafilah di bumi, manusia telah di ajarkan tentang keindahan oleh Allah sebelum diturunkannya di bumi.

“Fungsi itulah yang perlu dijaga agar manusia dapat senantiasa mengelola bumi dengan benar dan jauh dari kerusakan di muka bumi,” terang Saad.

Bersamaan dengan itu, menjelang akhir ceramahnya, Saad memngaksentuasikan perlunya mentransformasikan paradigma terhadap lingkungan berbasis nilai keislaman.

Upaya itulah yang kemudian diharapkan dapat menciptakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan perdamaian di muka bumi.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait